Mitos Belajar Sesuai Gaya
kenapa visual/auditori learning hanyalah mitos
Pernahkah kita duduk di bangku sekolah, lalu disodorkan kuesioner panjang oleh guru bimbingan konseling? Pertanyaannya seputar kebiasaan dan cara kita memahami pelajaran. Hasilnya, seperti sulap, akan melabeli kita ke dalam tiga kotak ajaib: visual, auditory, atau kinesthetic (VARK). Saya ingat betul betapa leganya saat tahu bahwa saya ini dikategorikan sebagai anak "visual". Tiba-tiba, segala nilai jelek di pelajaran matematika punya kambing hitam yang valid. "Oh, wajar saya tidak paham, gurunya cuma mengoceh di depan kelas, tidak pakai gambar!" Teman-teman pasti juga pernah merasakan momen kelegaan semacam ini, bukan? Rasanya sangat menyenangkan karena kita merasa akhirnya dimengerti oleh sistem pendidikan. Kita merasa spesial. Tapi, tahukah kita kalau ternyata kotak-kotak ajaib penentu gaya belajar itu... tidak pernah benar-benar ada?
Mari kita mundur sebentar ke dekade 1980-an untuk melihat bagaimana ide ini bermula. Pada masa itu, dunia pendidikan sedang haus-hausnya mencari cara untuk memanusiakan murid di kelas. Lalu, konsep model VARK ini mulai populer. Ide ini langsung meledak dan diadopsi di seluruh dunia. Mengapa? Karena secara psikologis, gagasan ini sangat manis dan demokratis. Konsep ini seolah merangkul kita dan berbisik, "Kita semua jenius dengan cara kita sendiri." Akibatnya, industri pendidikan mulai berubah drastis. Jutaan dolar mengalir untuk mencetak buku, menggelar seminar, dan membuat sertifikasi pengajaran berbasis gaya belajar. Secara intuitif, konsep ini terasa sangat masuk akal. Kalau kita lebih cepat hafal jalan dengan melihat Google Maps ketimbang diberi tahu arahnya secara lisan, pasti kita ini tipe visual, kan? Logikanya, jika guru mencocokkan gaya mengajar dengan gaya belajar kita, nilai rapor kita pasti akan meroket tajam. Namun, ada satu keganjilan kecil yang mulai mengganggu para ilmuwan di laboratorium sana.
Keganjilan itu muncul ketika para psikolog kognitif mulai melempar pertanyaan kritis. Jika gaya belajar ini memang sebuah pakem biologis di otak, seharusnya ada buktinya. Logika sainsnya begini: anak visual yang diajari materi sejarah menggunakan infografis pasti akan mendapat nilai sempurna, sedangkan jika diajari lewat podcast, nilainya akan hancur. Masuk akal, kan? Maka, mulailah para ilmuwan merancang eksperimen dengan kontrol yang ketat. Mereka mengumpulkan ribuan murid. Mereka mencocokkan gaya belajar murid dengan metode mengajarnya. Namun, mereka juga sengaja menyilangkan metodenya—anak visual diajari sejarah hanya dengan suara, anak auditori disuruh membaca teks penuh gambar. Eksperimen ini dirancang untuk melihat apakah benar otak kita mengalami korslet jika tidak disuapi dengan gaya yang tepat. Apa yang terjadi selanjutnya di meja penelitian sungguh di luar dugaan. Apakah nilai murid meroket saat diajari sesuai gaya belajarnya? Ataukah selama puluhan tahun ini kita hanya terjebak dalam halusinasi massal?
Inilah fakta ilmiah yang mungkin sedikit menusuk hati kita: gaya belajar itu murni mitos. Pada tahun 2008, sebuah tim ahli psikologi kognitif yang dipimpin oleh Harold Pashler meninjau puluhan dekade literatur penelitian soal ini. Kesimpulan mereka mutlak dan tak terbantahkan. Tidak ada satu pun bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa mencocokkan instruksi dengan "gaya belajar" akan meningkatkan pemahaman murid. Nol besar. Ternyata, otak kita jauh lebih rumit, sekaligus jauh lebih praktis, dari sekadar label visual atau auditori. Otak kita tidak menyimpan informasi berdasarkan format medianya, melainkan berdasarkan maknanya. Jika kita belajar tentang bentuk geografis peta Indonesia, mau tidak mau kita harus melihat gambar (visual). Jika kita belajar membedakan nada senar gitar, kita wajib mendengar (auditori). Jika kita belajar mengendarai sepeda, kita harus naik ke sadel dan mengayuhnya (kinestetik). Cara terbaik untuk belajar sama sekali tidak ditentukan oleh siapa diri kita, melainkan oleh apa yang sedang kita pelajari. Selama ini, kita telah keliru menyamakan "apa yang kita suka" dengan "bagaimana otak kita memproses data".
Menyadari bahwa kita telah meyakini sebuah mitos selama bertahun-tahun mungkin terasa agak mengecewakan. Jujur saja, saya pun butuh waktu untuk merelakan tameng "anak visual" saya. Namun, mari kita merenung sejenak dan melihat dari kacamata yang lebih luas. Mitos gaya belajar ini sebenarnya justru membatasi potensi kita. Saat kita memenjarakan diri dengan label auditori, kita secara tidak sadar akan lari dari pelajaran yang penuh grafik, padahal otak kita punya kapasitas penuh untuk menaklukkannya. Kini, kita bisa bernapas lega. Teman-teman tidak lagi terjebak dalam satu kotak sempit. Sains neurobiologi memberi tahu kita bahwa otak manusia dibekali dengan neuroplasticity—kemampuan luar biasa untuk beradaptasi, menyerap, dan bertumbuh lewat berbagai metode yang beragam. Jadi, mari kita tinggalkan alasan-alasan lama. Gali ilmu dengan membaca, dengarkan diskusi yang mencerahkan, dan praktikkan langsung dengan tangan kita. Percayalah, kita jauh lebih fleksibel, adaptif, dan cerdas dari sekadar hasil kuesioner usang di masa sekolah dulu.